Pagi mendung, hujan mengguyur
bumi cipanas. Mentari enggan keluar dari persembunyiannya , membuat ibu-ibu
kesal dengan cucian mereka yang basah, suami-suami mereka yang hanya berpangku
tangan di rumah. Tapi aqila malah senang dengan suasana seperti pagi ini.
Menurut gadis usia 17 tahun ini, hujan itu pembawa berkah, menciptakan suasana
syahdu, membuat fikiran tenang dengan suara gemericik air yang turun dari
langit. Ia meletakan wajahnya di atas jari-jari yang dengan nyamannya bersandar di mulut
jendela. Memandang tetes-tetes air yang turun membuat memori otak nya memutar
masa lalu yang terjadi padanya.
* * *
“maksud kamu apa?, aku ga sama sekali nyontek
jawaban dari kertas ulangan kamu !” qila berapi-api. Ia menyangkal semua tuduhan
adi and the gank padanya.
“alaahh.. ngaku aja sih ! selama ini kamu
sirik kan sama aku, aku yang selalu juara ngalahin kamu !” adi ga kalah sengit
menanggapi qila. Hari itu pembagian Raport di kelas 5 sd berubah jadi
menegangkan buat Qila. Betapa tidak mati-matian ia belajar dan akhirnya
mendapatkan hasil yang memuaskan. Tapi keberhasilannya itu tidak membawa
keberuntungan apapun untuknya. Bahkan ia di tuduh sebagai seorang plagiator. Tadinya
ia kira dengan juara kelas, teman-teman yang selama ini memusuhinya akan
berubah simpati padanya. Tapi mereka malah bertambah membencinya. Pertahanannya
luruh. Matanya berembun. Tak sanggup menahan sakit hatinya akhirnya ia menangis
di hadapan teman-temannya.
“oke kalau itu yang kalian inginkan! Aku besok
bakalan pindah sekolaaah!”teriak aqila seraya berlari meninggalkan sekolahnya. Meninggalkan
adi yang melongo karena ucapan aqila. Dan hari itu awan pun ikut bersedih.
* * *
Tidak ada komentar:
Posting Komentar